Kamis, 26 Juni 2014

[Day 2] WAY KAMBAS LAMPUNG

::: 17 Days Sumatra Trip 2014 :::


Ian was preparing his car when I woke up. It was 5.30 am and the birds were singing beautifully in The terrace of the house.
We planned to go to Taman Nasional Way Kambas today, the Indonesian Elephant Conservation Centre. It was built in 1989 and well-known as the oldest national park in Indonesia.





Before we left Bandar Lampung to go there, Ian took us to his special breakfast place. It's noodle with pork and small portion of vegetables. Wow!! Yummy! Thanks Ian for this good start of the day!




To get to Way Kambas, usually you need to rent a car (starts from 250000 IDR). Or, if you have limited budget you can take a bus from Rajabasa Terminal to Way Jepara. Then rent an ojek (motorbikes) to take you to Way Kambas, paying 40000-50000 IDR.


























It took us 3.5 hours from Bandar Lampung to Way Kambas by car. The entrance fees were 5000 IDR for local guests and about 100000 IDR for foreigners.

Monkeys were easy to find along the bumpy street, playing around. When we parked the car, 1st things we saw were souvenir booths and food stalls. There weren't many food stalls, actually so I think it would be good if you prepare your own lunch. We, ourselves, bought our lunch beforehand. It's Nasi Padang sold outside the Way Kambas area. 


There were only one or two elephants for The Elephant Ride. We chose to sit at the edge of 'their giant bath tub' and wait until 2 o'clock, the time for them to come back from the forest and take a bath.


Since then, the excitement began.




Watching the elephants bathing. How exciting!!


Please meet my new elephant fellows, Edwin. He's been nice and patient. XXOXX


Indah was taking a picture with Ratu, who was only 7 months old. Cute!

Trying to take a picture while the elephants were bathing. Indah's selfie stick (Tongsis) was quite helpful!  ;)


So, the day was ended with Indah's favourite food. Bakso Sony is a famous meatball soup in Lampung. If you like hot and spicy food, it's a recommended place to go. Both Indah and me were happy with what we had on our second day. 

I think, Way Kambas is also a good place for family holiday. Even though the elephant school is no longer exist, but the children can watch the elephants wandering around, touch them, hear them screaming, or ask questions to the keeper. I'm happy with all information I got from the keepers. I took some videos for my son and planned to come back here again with him.

We left Lampung to Palembang by Sriwijaya train. It will be an 8-hour travel. Bye Lampung! 

Day 2 is over! Let's see what will the third day offer us.... :)





Expenses (IDR)
Gasoline for Ian's car 200000 
Lunch (take away) 19000
Way Kambas Entrance for 4 people and 1 car (insurance included) 35000
Bakso Sony 12000/bowl
Train ticket Lampung-Palembang 133500
TOTAL Expenses day 2 is 399500



Selasa, 24 Juni 2014

[DAY 1] JAKARTA-LAMPUNG

::: 17 Days Sumatra Trip 2014 :::

The first day starts today. Got a bit upset with the long bus trip from Pulogadung East Jakarta to Merak Harbour, as usual: traffic!
I just love the fact that Indah and I enjoyed the 5 hours travels to the harbour, eventhough we realised that we might got to Bandar Lampung late at night.


My early dinner was nasi bungkus (rice, vegetables, a boiled egg and chili.) I Never forget to bring a small plastic container and spoon every time I travel.

Enjoying a cup of warm tea that Indah brought from home at one corner of the ferry "Shalem Surabaya" with a view of sunset in Sunda Strait.



After 2 hours, we arrived at Bakauheni Harbour, Lampung. It was 6.30 pm. It's the first time for Indah to travel in Sumatra. For me, myself, it's my second time, but still the night landscape in the Harbour was unbelievable. 

Off to Bandar Lampung at 9 o'clock. I gotta experienced another Sumatra drivers' craziness while driving! Speeding on bumpy road, driving like crazy! I pretended to sleep, but of course I couldn't! I was just hoping that we arrived as soon as possible, safe and sound.

Finally, we arrived in Bandar Lampung, Kemiling area. We planned to stay a night in my friend's house. It was 23.15 pm, late at night, but the house looked like waiting for us. My friend's parents still awoke to welcome us into their home. Ian, my friend, looked surprised to see me. I might not wanted to be in his house before, in any way.... But hey, here I am!! Long time no see Ian, I haven't heard a lot about him except he married a few years ago. 

We took our time to chat a little bit. Ian and his wife, Icha, gave us some additional information about the areas in Sumatra that we're going to visit. Icha comes from Medan, North Sumatra and Ian is actually Javanese but he and his parents live in Lampung. I feel lucky as we got all these informations from trusted persons; such as do not eat too many durian in Padang -OR- how to enjoy Aceh during Ramadhan as non-Muslim girls.

Day 1 done. Thank GOD! Off we sleep to start the second day tomorrow!



Expenses (IDR)
Pulogadung - Merak by bus PO MURNI JAYA 25000
Pulogadung entrance 1000
My early dinner, nasi bungkus 10000
Mineral water 600 ml 4000
Ferry to Bakauheni Harbour 13000 
Travel Bakauheni - Bandar Lampung 40000
TOTAL Expenses on day 1: 93000









Senin, 31 Maret 2014

Terima kasih Rudy Hadisuwarno!

Memiliki rambut panjang memang merepotkan untuk sebagian orang. Tapi tidak untuk saya. Sejak kecil saya memelihara rambut panjang. Seingat saya, hanya 2 kali saya potong pendek, saat itu saya masih duduk di bangku SMP dan memutuskan untuk memotong rambut jadi sepanjang bahu. Yang kedua, saya memutuskan untuk memotong rambut saya jadi cepak setelah melahirkan, karena rambut saya mulai rontok dan saya tidak betah melihat tebaran rambut dimana-mana. Tapi sesudahnya, saya memelihara rambut panjang lagi, hingga saat ini anak saya berumur 6 tahun.

Libur sekolah selama 2 minggu seperti saat ini membuat saya jadi punya waktu lebih untuk merawat tubuh dan rambut. Siang ini, saya memanjakan diri saya dengan pijat seluruh badan ala rumahan dan tak ketinggalan creambath! 
Enake....

Dibantu seorang teman yang punya kemampuan ekstra memijat, dia merekomendasikan krim creambath dari Rudy Hadisuwarno.
"Kamu tau gak sih, kalo Rudy itu penemu krim creambath?"
"Oya?" ujar saya takjub.
"Iya. Dia ini yang menemukan teknik creambath."
"Serius?" Saya masih tidak percaya. 

Pikiran saya langsung melalang buana pada Rudy Hadisuwarno, yang saya kenal sebagai seorang penata rambut dan sudah memiliki banyak jaringan bisnis salon rambut dan kecantikan di berbagai daerah di Indonesia. Karena saya tidak banyak tahu tentang beliau, juga tidak pernah memakai layanan di salon miliknya, saya jadi tertarik browsing tentangnya. 

Creambath diciptakannya karena perawatan rambut 40 tahun yang lalu hanya sebatas minyak cem-ceman atau urang-aring. Minyak dianggap bahan yang paling baik untuk kesehatan rambut, padahal minyak justru membuat rambut jadi lepek dan lengket.
Akhirnya, Rudy mencari alternatif lain. Inovasinya dimulai dari formula krim rambut untuk pria, namun diperbaharui dengan bahan-bahan alami dan melalui proses teknologi yang bisa menghilangkan efek lengket seperti minyak tapi tetap melembabkan kulit kepala. 
Penemuan Rudy ini disukai oleh banyak orang, lalu Rudy membuat ritualnya, yaitu pijatan saat creambath. 
Ia menjelaskan, "Tahun '74 itu tiba-tiba booming orang -orang datang ke salon untuk creambath. Nama pun saya bingung, apa ya? Ya sudah tiba-tiba 'creambath' deh, 'mandi dengan krim.' Kalau 'cream shampoo' kan aneh, apa ya... akhirnya 'creambath' aja gitu." (Sumber: wolipop.detik.com)

Saya sendiri, rutin melakukan creambath minimal 1 bulan sekali sejak 15 tahun yang lalu. Menurut saya, creambath itu asyik banget. Kepala dipijat dengan lembut, memakai krim khusus yang nantinya akan memberi efek lembut, wangi, dan sehat pada rambut. Layanan creambath di salon bermacam-macam. Ketika saya kuliah di Yogyakarta dulu, salon langganan saya melayani creambath plus plus, maksudnya setelah kepala, tangan dan kaki juga ikut dipijat. How relaxing! Setelah creambath, rasanya kepala jadi lebih enteng, rambut jadi indah seperti iklan-iklan shampo di TV. Hahaha.
Nah, saya tidak menyangka kalau krim creambath yang banyak manfaatnya itu ditemukan oleh orang Indonesia! Dan saat ini, ada berbagai merk yang juga memproduksi krim creambath, mulai dari NR, Matrix, hingga merk internasional sekelas Makarizo dan L'Oreal.

Segera kami membeli krim creambath yang ternyata 'sangat Indonesia' ini. Kami hanya menemukan 1 jenis krim, yaitu ginseng yang berguna untuk merawat akar rambut. Sesampai di rumah, saya kembali melanjutkan perawatan rambut ala rumahan itu. Teman saya membantu memakaikan krim pada rambut saya. Bau ginsengnya cukup kuat, tapi saya fokus pada hasil yang akan terlihat nanti. Hmm, memang terdengar agak lebay, tapi jujur saja, baru kali ini saya creambath dengan perasaan bangga. Rupanya ini produk Indonesia yang diakui dunia!

Terima kasih, Rudy! Kamu memang betul-betul membuat perempuan Indonesia jadi tambah cantik dan merasa senang merawat rambut panjang!


Sumber: rudyhadisuwarnocosmetics.com


Selasa, 03 Desember 2013

[Cerita Foto] Welcoming December

Saya sudah berjanji pada Abi untuk memasang pohon natal sepulang kami dari gereja pada hari Minggu kemarin. Sayang, rencana jadi tertunda, karena sumur di rumah kontrakan rusak lagi, jadi saya harus ngangsu air dari tetangga.

Pagi ini, sebelum berangkat mengajar, Abi kembali mengingatkan saya tentang pohon natal. Saya mengiyakan dan meyakinkannya, hari ini pasti jadi.

Pukul 4 sore, langit agak gelap menyelimuti Kemang, Jakarta Selatan. Saya bergegas membereskan meja, seketika setelah surat elektronik terakhir terkirim. Saya mematikan AC dan lampu, meyakinkan kembali materi untuk besok ready to go, lalu meninggalkan kelas. Tergesa saya menuju parkiran lalu melaju menuju Jakarta Timur. Saya berharap tidak sampai kehujanan, karena di sepanjang jalan kilat tampak menghias langit yang makin gelap.

Puji Tuhan, dalam waktu kurang dari 1 jam sampai juga saya di rumah. Abi menyambut kedatangan saya dengan penuh keriangan, "Horeee, mami pulang! Kita bisa pasang pohon natal!"
Abi langsung sibuk ketika saya mulai mengeluarkan pohon natal dan aksesorisnya satu per satu.

"Mami, ini benangnya putus, nih."
"Mami, aku boleh keluarin yg hiasan beling gak?"
"Aku aja yang gantung hiasan sinterklas ya, ini buat anak kecil. Mami kan sudah tua."
Cerewet sekali!
Saya mengambil alih pemasangan lampu, ketika melihat Abi sudah terlihat memilah-milah hiasan yang berwarna-warni.

"Aku aja yang pasang tinselnya. Aku bisa kok."
"Jangan foto dulu! Belum selesai, nih!"
"I will be as tall as this christmas tree one day. Right, Mum?"
"Hmm.., kayanya ada yang 'gak pas,' nih."
"Tambahin hiasan di sebelah sini deh, biar pohonnya gak miring."
(Masih berkutat dengan 'kemiringan' pohon)


Tak lama kemudian, tararaaaaaa.... jadilah pohon natal kami!


"Nah, sekarang waktunya take a picture! Close-up, ya."



 

"Eh, bentar dulu.... kurang 1 lagi, nih."


Walah, masih ada yang ketinggalan, rupanya. Abi menemukan tinsel silver kecil di bawah pohon natalnya.

"Sudah, Bi?"
"Bentar dulu. Susah, nih yang kecil. Jatuh-jatuh melulu," jawabnya tanpa menoleh. Ia tampak memainkan jemarinya mengikat, mengaitkan, memberikan final touch dengan ornamen kerlap-kerlip.


"Cakeeeep....," Abi memuji diri sendiri sambil mengambil foto hasil dekorasinya.


 
 Good job, Abi! Christmas is indeed the most wonderful time of the year!




Minggu, 10 November 2013

Ayo, Main Sampai Berantakan!


Sabtu pagi. Suara Diego terdengar memanggil Abi dari teras rumahnya yang tak jauh dari rumah kami.
"Abi! Lagi main apa kamu?"
"Main Goop!"
"Main apa?" Diego berlari menuju Abi yang sedang sibuk dengan mainan adonan tepung sagu dan air.
"Apaan tuh, Bi?"
"Goop!" Jawab Abi sambil senyum.
Ya, permainan ini saya dapatkan dari koordinator saya di sekolah. Kami suka membuatnya setiap ada Messy Day yang diadakan setiap term. Abi senang sekali ketika saya mencobanya di rumah dan kalau sedang bosan dengan semua mainannya, dia suka minta dibikinkan goop atau kadang bikin sendiri.

Diego terlihat tidak tertarik (awalnya).
"Aku sudah mandi," katanya ketika Abi mengajaknya main bareng.
"Ya udah, mainnya dikit-dikit aja, gak usah berantakan kayak aku."
Lalu Diego mencoba menyentuh adonan yang terlihat menarik itu dan mulai main bersama Abi yang saat itu sudah menumpahkan hampir setengah adonan goop dari baskomnya.





Tak lama, adonan pun habis. Saya memutuskan untuk membuat lagi. Masing-masing mendapat satu baskom yang sama besar dan mereka mulai membuat goop mereka sendiri.

Campur tepung sagu dan airnya terlebih dahulu
Tambahkan beberapa tetes pewarna makanan

Uleni hingga tekstur menyerupai susu kental manis

Abi membuat warna biru, sedangkan Diego memilih warna merah. Mereka tampak menikmati proses membuatnya, mulai dari menguleni tepung sampai mencampur pewarna di adonan.
"Ini kok keras banget sih. Kayaknya kurang air deh," Abi menuangkan Air ke dalam baskomnya.
"Seberapa, nih? Banyak atau dikit?"
"Dikit aja dulu. Nanti Abi liat, kalau kurang baru tambah lagi," jawab saya.
"O, ia ya. Nanti kalo kebanyakan air, gak jadi goop deh. Jadinya kayak lumpur! Hahaha..." Abi tergelak. Rupanya dia masih ingat pengalamannya membuat adonan ini tempo hari.
"Gimana, nih Tante. Punyaku kok kayak gini, sih?" tanya Diego menunjukkan adonannya yang terlalu cair.
"Itu tambahin tepung lagi, kamu kebanyakan airnya," Abi menjawabnya untuk saya.




Beberapa saat kemudian, goop sudah jadi. Abi dan Diego mulai bermain-main dengan adonan masing-masing.

 



Saya menambah 'perangkat' bermain mereka dengan barang-barang bekas yang juga biasa digunakan Abi untuk bermain air di kamar mandi; sendok plastik, gelas plastik, garpu, apa pun yang aman dan sudah tidak terpakai. Foto-foto berikut ini menggambarkan bagaimana mereka mengeksplorasi adonan dengan cara mereka sendiri. Mereka merasakan teksturnya yang unik, menikmati warnanya yang mencolok, kadang juga bercakap-cakap tentang apa yang sedang mereka lakukan.

















 It was so much fun and messy! Sampai akhirnya mereka mencampur goop mereka dalam satu baskom dan melihat apa yang terjadi jika 2 warna dicampurkan. 


Lelah bermain goop dan adonan sudah berceceran dimana-mana, saya mengeluarkan sisa pewarna makanan dan beberapa botol plastik bekas.
Tanpa instruksi lebih lanjut mereka mengisi botol-botol tersebut dengan air, meneteskan beberapa (baca: BANYAK) tetes pewarna ke dalam botol dan memulai permainan baru mereka!

Memerhatikan bagaimana pewarna makanan larut dalam air

Ayo, campur warna-warnanya!

Lalu, semprotkan air ke arah pagar. Yeah!!

Woohooo!!! Coba ayunkan lagi lebih tinggi!






Lalu saya mengeluarkan semprotan air, yang biasa digunakan untuk menyemprot tanaman. Abi semakin semangat! Ia mengisinya dengan air dan (lagi-lagi) mencampurkan banyak warna di dalam botol.


Fasya mengamati pola-pola yang berbeda setiap kali air disemprotkan

Fasya dan Aga terus menyemprotkan air ke arah tembok

Aga asyik melatih jari-jemarinya dengan botol semprotan

Melihat anak-anak mulai bosan dengan semprotan air, saya mengeluarkan kertas koran. Hehehehe... ya, saya hanya berusaha mengeluarkan barang-barang yang sudah tidak terpakai di rumah untuk bisa dimainkan anak-anak. Saya tidak tahu juga, bagaimana mereka akan menggunakan kertas koran itu sebagai mainan. Tapi, lihat apa yang mereka lakukan!

(Lagi-lagi) mencampurkan beberapa warna di gumpalan koran yang basah

Lalu peras korannya daaannn....wow!! Warna baru!!

Koran bekas habis dan hari semakin siang. Saya mulai mengeluarkan aba-aba untuk segera menyudahi kegiatan pagi itu. 
"Sudah, ya... waktunya beres-beres!" saya berseru sambil membereskan botol-botol yang tadi digunakan.
"Oke, boss!" Diego segera mengambil selang, menyemprot teras rumah, sementara entah inisiatif dari mana Abi mengambil ember besar dari kamar mandi. Hahaha.... mari semprot air ke dalam ember!! Makin kencang airnya, makin kencang juga suaranya!



Sabtu pagi itu terasa sangat istimewa. Abi dan tetangga-tetangganya bermain sampai berantakan di rumah! Well done, kids!

"Play is the highest form of research." (Albert Einstein)



Jumat, 20 September 2013

Weekend Getaway to Pari Island: See The Bright Side



Our Trip this time taught us to be grateful no matter how uncomfortable the situation was.

The Tour and Travel we trust didn't do what they supposed to do, so we didn't get what we suppose to have. Our group was deposited to another tour guide who already had 60 people in his own group, heading to the same destination. Our group had 13 people, so it became 73 people altogether.

We're grateful for our local tour guide, Pak Udin. He had much experience with this Tour and Travel, which apparently been cheating several times for not serving their customers right.


Our Lodge for 13 people (2 bedrooms, 2 bathrooms)

We're grateful because Pak Udin still served us, even though The Tour and Travel did not pay him for the travel service over the past two weeks. He was trying to get full Air Conditioner lodge for us, according to what had been stated in the agreement. Although the number of mattress weren't enough for all of us, we slept well at night and woke up in the morning with none of our body parts aches. :)



Virgin Beach

We enjoyed the beautiful Virgin Beach: white sand, clear water, full of mangroves and fish breeding.
We enjoyed the beautiful coral reefs of the Thousand Islands, although the boat we used was not as big as other boats and also had no roof that caused us sun-drenched, like having a free skin-tanning facility that we did not really want.
We still could get the underwater pictures from another guide's camera.
We shared a fresh and super yummy grilled squid at the Barbeque after given a plate of not-really fresh tuna.

Our Boat for Snorkeling and Island Hopping

 Saying "Hello" to our friends in another world ;)

Our disappointment paid off by the beauty of this island. We had so much fun and planned to go back there again! Not with the same Tour and Travel, of course!

Pari Island is beautiful and gives us (especially me) another experience that we'd never had before.