Minggu, 17 Juni 2012

Our First Movie: Madagascar 3

Hari ini, Minggu 17 Juni 2012, kami berdua nonton di Metropole XXI, Jakarta. Siang itu aku berencana mengajak Abi untuk nonton Madagascar 3. Ini adalah nonton di bioskop untuk yang pertama kalinya buat Abi. Ya, dia sudah 4 tahun, dan sudah waktunya aku ajak ke bioskop. Sebenanya, sudah sejak lama aku ingin ngajak Abi, tapi sepertinya dia belum siap, karena dia selalu protes setiap mendengar suara sound system yang terlalu kencang, dan lagi aku gak yakin apakah dia bisa duduk tertib selama durasi film yang cukup panjang. Tapi hari ini, juga untuk memulai kebersamaan kami selama sebulan karena sedang libur sekolah, aku ingin merayakannya dengan nonton di bioskop!

Aku memilih film Madagascar 3, karena ini adalah tontonan anak2 yang cukup lucu, dan aku pikir Abi bisa mengerti lelucon2nya. 2 seri sebelumnya cukup menghibur (walaupun Ice Age tetap JUARAnya lucu, tapi Madagascar cukup oke lah). Ketika sampai di Metropole, Abi tampak senang, semangat, dan gak sabar masuk ke dalam teater. Dia minta izin untuk memegang tiket, dan bertanya apa yang tercantum di tiket itu. Aku menjelaskan, kita akan duduk di H5-H6, dan masuk teater 4. Sambil menunggu panggilan masuk, Abi menikmati suasana yang remang-remang dan berbau sangat popcorn. Dia memang senang makan popcorn, dan aku menawarkan dia popcorn kemasan kecil, sambil wanti-wanti berulang kali harus minum air putih yang banyak atau dia akan batuk2.

Panggilan sudah terdengar, dengan berlari kecil dia menuju teater 4. Semangat sekali. Dia menyerahkan tiket, lalu menggandeng tanganku untuk segera mencari tempat duduk. Kami duduk di tempat yang ditentukan, dan komentar pertamanya adalah, "Wowwww...tivinya gede banget!"
Hahaha.....

Semua tampak baik-baik saja hingga 25 menit kemudian, Abi berbicara dengan nada agak keras, "Mami, aku mau pulang sekarang."
Segera ku'halangi' dengan menawarkan kentang goreng dan dia setuju. Kami keluar membeli kentang goreng, dan kembali masuk. Aku berharap dia bisa bertahan sedikit lagi sambil menghabiskan 'rayuan' kentang goreng.

Selama sisa durasi film, beberapa kali dia bertanya, "Sudah selesai ya, Mami?" atau "Is it the end?" Aku hanya bisa berharap semoga penonton di sekitar kami (yang tampak serius nonton) tidak terganggu dengan pertanyaan bocah seperti ini :D

Seiring dengan lagu Fire Works dari Katy Perry yang menjadi soundtrack film ini, film berakhir. Abi berdiri di atas tempat duduknya, menari dengan atraktif, sambil mencoba mengikuti lirik lagu.

Dia terlihat senang. Aku lebih senang. Agenda kami hari ini sudah terlaksana: nonton film di bioskop. Bahagia rasanya, berjibaku dengan anakku yang baru pertama kali ke bioskop. Aku sibuk mensiasati bagaimana supaya dia bisa menikmati durasi film yang cukup  panjang dan dia sibuk mengomentari adegan2 lucu yang terjadi. Yang lebih membahagiakan lagi, kami bisa tertawa bersama, menikmati adegan-adegan lucu di film itu.

Sesampai kami di rumah, sebelum tidur siang, dia bilang (ntah bercanda ntah tidak), "Mami, aku mau ke Madagascar, mau terbang-terbang kayak di sirkus."



Selamat berlibur!
(^_^)"

Jakarta, June 2012.



Jumat, 11 Mei 2012

Fem....

Halim Perdanakusuma, 10 mei 2012

Aku sampai jam 5 sore. 24 jam setelah aku mendengar kabar itu dari Jhony, teman sekelasmu waktu kelas 1 SMA dulu.
Sudah menunggu kawan2 dekatmu yang tak lelah mengikuti kabar terakhir tentang sukhoi Super Jet 100 yg kau tumpangi.

Femi, selama di ibukota, beberapa kali kesempatan kita bertemu. Yang pertama, ketika kamu menjemput Eny di Plasa Senayan. Saat itu Eny dan Icha baru tiba dari Malang untuk ngurus visa dan mereka akan bermalam di kos mu. Aku juga di sana untuk ngobrol-ngobrol dengan Eny. Lama ga ketemu, aku senang bisa berjumpa lagi. Kamu tidak berubah. Hanya terlihat sedikit lebih tembem.
Yang kedua, di sebuah warung kopi di bilangan tebet. Kamu memberiku sebuah buku doa. Dan di kartu kecil itu kamu tuliskan, "Do your best, let God do the rest."
Kamu memberiku semangat untuk pergumulan hidup yang sedang kualami saat itu (hingga kini). Setengah tak percaya, kamu memberiku buku doa Fem. Apa kamu sendiri pernah memakai buku itu? Hehe.
Tapi waktu itu kamu bilang "Ini buat kamu," dan aku cuma bisa bilang terima kasih dengan ekspresi agak bingung.
Tidak sering bertemu memang. Namun, kita tetap saling menyapa di dunia maya. Mengomentari kelucuan-kelucuan hidup yang terjadi di sekitar kita.

Di suatu subuh, aku curhat di twitter. Aku mencantumkan ikon wajah menangis. Kamu membalasnya dengan, "Whazz up, girl?"
Aku reply dengan jawaban diplomatis juga menanyakan kenapa kamu blm tidur.
Itu adalah kontak kita terakhir. 19 April. Setelah itu, aku hanya membaca postingan2 di blogmu saja.
Fem, memang ga banyak waktu kita untuk saling mengenal, 17 thn. Tapi hal-hal kecil dan mengejutkan yang terjadi akhir-akhir ini, membuatku merasa bahagia. Dan aku ingin tetap merasakan kebahagiaan itu. Aku ingin tetap bisa melihat wajah tembem berminyakmu.
Sore ini, aku dan teman-teman menanti kabar baik darimu. Kami masih punya harapan. Karena kamu orang yang kuat.


Sip.
Hang in there, girl!

Sabtu, 11 Februari 2012

Suatu Sore di Balikpapan

Ada yang istimewa di liburan akhir tahun kemarin.
Setelah 7 tahun gak ketemu, akhirnya ketemu lagi sahabat gila jaman SMP dulu, Hafiz (bukan nama sebenarnya).

Usianya sebaya denganku. Perawakannya saat ini agak 'bongsor' jika dibandingkan 7 tahun lalu. Perutnya agak buncit, tanda kemakmuran mendadak yang dialaminya, rambut gondrong, dan gaya bicara seperti banci.

Aku agak kaget begitu dia datang dengan menyetir mobilnya. Dia pernah bersumpah gak pernah mau menyetir mobil, karena dia gak mau stress di jalan dan dia yakin, semiskin-miskinnya dia, pasti masih bisa mempekerjakan seorang supir untuk mengantarnya kemana-mana.

Okey. And people change, of course.

Aku senang bisa bertemu Hafiz lagi. Teman menggila setiap akhir tahun (karena aku cuma bisa pulang di akhir tahun) dan hura-hura di malam tahun baru.

Beberapa kali pada malam tahun baru, kami lewatkan dengan ke disko dan tiup terompet sepanjang jalan..Pernah kami check-in 1 kamar untuk 4 orang, dan aku perempuan satu-satunya.
Jangan khawatir, kami hanya mencari tempat untuk senang-senang main kartu dan mampir ke bar sejenak untuk merayakan pergantian tahun. Kami gak mungkin main kartu di pinggir jalan yang penuh sesak manusia kan?
Setelah lewat jam 12, barulah kami ke bar hotel yang telah usai 'counting down.' Gratis! karena acaranya sudah kelar. Hehehe
Lalu kami ajojing sampai pagi.

Ya, itulah kami beberapa tahun lalu, para kaum hedon. Dan hingga kini aku masih bisa menangkap ke-hedon-an itu di hidupnya. Ntah benar atau tidak, aku merasa Hafiz harus mempertahankan itu demi karirnya sebagai make-up artist yang baru merambah Ibukota.

Bertemu dan bertukar cerita lagi dengannya, membuatku 'kembali' sejenak pada kehidupanku dulu. Dan Hafiz agak terperangah dengan kehidupanku saat ini. Ia tidak menyangka aku bisa membesarkan seorang anak.

"Ngelahirin sih gw yakin lo bisa, Lin. Tapi ngerawatnya?? Ckckckc...bisa juga lo?" Demikian kata-katanya ketika melihat aku berjibaku dengan Abi di mobilnya. Tak lama, ia melanjutkan kalimatnya, "Tapi teteuuuupppp dong bo!!! Kuku harus berwarna! Wowwww...there you go, Linda!!!" Demikian ia mengungkapkan kelegaannya ketika melihat beberapa elemen hidupku tidak berubah.

"Inget ya, Lin. Kita hidup tetep harus jadi diri kita sendiri. OK!"
"You can count on me for that, Hafiz," kataku. "Kayak elu kan? Gak berubah blas? Tetep aja cibai kayak dulu ! Btw,  Kok lo gak jadi kawin sih sama cewek Bali waktu itu?"
"Gak cinta, Lin. Buat apa? Buat status doang? Gw udah bahagia kok sama hidup gw sekarang."
"Jadi lo positip gak kawinin si Deddy?"
"Eh, dia kali yang harus kawinin gw! Hahahaha...."tawanya lepas hingga teman-teman di belakang protes karena pengang.

Deddy adalah pasangannya yang sudah dipacarinya selama 10 tahun. Aku belum pernah bertemu Deddy, tapi namanya akrab di telinga.
"Gw gak mau muna, Lin. Gw cuma  mau hidup jujur. Januari gw bakal bikin final statement ke bonyok  tentang gw. Supaya mereka stop jodohin gw sama pere..."

Aku senang mendengarnya. Akhirnya, Tante Lies, yang juga temen akrab mami, memang harus menerima kenyataan ini setelah sekian lama menolaknya.

Terima kasih kawan.
Sesorean saat itu menjadi begitu menyenangkan.
Tuhan besertamu.